Definisi tentang Ekologi Manusia (human ecology) mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dahulu, Ekologi Manusia dipandang sebagai ilmu monodisipliner. Pada tahun 1916, istilah Ekologi Manusia dikemukakan untuk pertama kalinya oleh Huntington, yakni sebuah konsep baru untuk menjelaskan entitas dari hubungan antara konten geologis, lanskap, dan objek pada permukaannya serta analisis populasi manusia dan produk budaya pada latar belakang lingkungan (Wolanski & Siniarska 2009). Dalam hal ini, faktor iklim dan variasinyalah yang menentukan kapasitas manusia. Dua puluh tahun kemudian, Ekologi Manusia dipahami sebagai suatu disiplin ilmu yang disebut juga epidemiologi, yang mencakup perihal lingkungan penyebab penyakit.
Sejak tahun 1964, Ekologi Manusia berkembang sebagai ilmu yang multidisipliner. Pengertian Ekologi Manusia pada masa kini pun lebih kompleks dibandingkan dengan sebelumnya. Menurut Sutton & Anderson (2010), Ekologi Manusia adalah studi mengenai hubungan dan interaksi antara manusia, biologinya, budayanya, serta lingkungan fisiknya. Di bawah disiplin ilmu ini, budaya dan perilaku manusia tidak hanya dipandang sebagai produk masyarakat, tetapi juga sebagai hasil dari pengaruh dan interaksi dengan variabel fisik dan biologi (Lopes & Begossi 2009).
Di samping itu, Ekologi Manusia juga didefinisikan sebagai sains tentang Homo sebagai genus biologi dan budayanya sebagai komponen dinamis dalam ekosistem (Wolanski & Siniarska 2009). Homo sapiens dianggap sebagai spesies yang istimewa jika dibandingkan spesies lainnya, karena budayanya yang unik. Berdasarkan definisi tersebut, perlu digarisbawahi adanya kesatuan antara biologi dan budaya manusia.
Adapun subjek dari penelitian mengenai ekologi manusia adalah manusia sebagai organisme dan manusia sebagai populasi serta interaksinya dengan lingkungan yang telah ada, khususnya hubungan antara aspek biologi, sosial, budaya, serta kondisi kehidupannya. Dalam hal ini, Ekologi Manusia modern dipahami sebagai sains transdisipliner mengenai populasi manusia dan budayanya, di mana manusia diperlakukan sebagai elemen kreatif dari ekosistem dan sistem sosial (Wolanski & Henneberg 2001). Dengan demikian, berdasarkan sudut pandang Ekologi Manusia, manusia menghadapi lingkungan untuk dapat sintas dengan dua cara, yakni adaptasi biologi dan adaptasi perilaku budaya.
Persamaan dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas ialah bahwa Ekologi Manusia merujuk pada suatu ilmu (oikos artinya “rumah/tempat tinggal”; logos artinya “ilmu”) dan mempelajari interaksi lingkungan dengan manusia sebagai perluasan dari konsep ekologi pada umumnya. Dalam beberapa hal, manusia menghadapi dorongan alam menggunakan budaya dan menciptakan kondisi baru untuk keberlangsungannya. Pengaruh aktivitas manusia pada lingkungan dan manusia lainnya dan pengaruh dari lingkungan terhadap manusia atau sekelompok manusia (keluarga, strata sosial, populasi) merupakan efek dari interaksi.
Proses dalam pemantauan status biologi dari populasi manusia berkaitan erat dengan status kesehatan, nutrisi, kemampuan reproduksi (fertilitas dan kesintasan). Sementara itu, proses dalam memonitor status sosio-kultural dari masyarakat terkait dengan institusi sosial, tradisi, tingkat teknologi, sistem ekonomi, dan sistem politik (Wolanski & Siniarska 2009).
Bibliografi
Hawley, H. A. 1950. Human Ecology, A Theory of Community Structure. New York: The Ronald Press Company: 474 hlm.
Lopes, P. & A. Begossi. 2009. Current trends in Human Ecology. Cambridge Scholars Publishing: xii + 361 hlm.
Sutton, M. Q. & E. N. Anderson. 2010. Introduction to cultural ecology: Second Edition. Altamira Press, Maryland: xvii + 399 hlm.
Sutton, M. Q. & E. N. Anderson. 2010. Introduction to cultural ecology: Second Edition. Altamira Press, Maryland: xvii + 399 hlm.
Wolanski, N. & M. Henneberg. 2001. Perspective of Human Ecology. Human Ecology Special Issue. 10: 3—7.
Wolanski, N. & A. Siniarska. 2009. A model for human ecology. Dalam: Rudan, P. (ed). 2009. Physical (Biological) Anthropology. Encylopedia of Life Support System: 111—119.