Sep 29, 2014

Ekologi Manusia: Definisi dan Konsep

Definisi tentang Ekologi Manusia (human ecology) mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dahulu, Ekologi Manusia dipandang sebagai ilmu monodisipliner. Pada tahun 1916, istilah Ekologi Manusia dikemukakan untuk pertama kalinya oleh Huntington, yakni sebuah konsep baru untuk menjelaskan entitas dari hubungan antara konten geologis, lanskap, dan objek pada permukaannya serta analisis populasi manusia dan produk budaya pada latar belakang lingkungan (Wolanski & Siniarska 2009). Dalam hal ini, faktor iklim dan variasinyalah yang menentukan kapasitas manusia. Dua puluh tahun kemudian, Ekologi Manusia dipahami sebagai suatu disiplin ilmu yang disebut juga epidemiologi, yang mencakup perihal lingkungan penyebab penyakit.

Sejak tahun 1964, Ekologi Manusia berkembang sebagai ilmu yang multidisipliner. Pengertian Ekologi Manusia pada masa kini pun lebih kompleks dibandingkan dengan sebelumnya. Menurut Sutton & Anderson (2010), Ekologi Manusia adalah studi mengenai hubungan dan interaksi antara manusia, biologinya, budayanya, serta lingkungan fisiknya. Di bawah disiplin ilmu ini, budaya dan perilaku manusia tidak hanya dipandang sebagai produk masyarakat, tetapi juga sebagai hasil dari pengaruh dan interaksi dengan variabel fisik dan biologi (Lopes & Begossi 2009).

Di samping itu, Ekologi Manusia juga didefinisikan sebagai sains tentang Homo sebagai genus biologi dan budayanya sebagai komponen dinamis dalam ekosistem (Wolanski & Siniarska 2009). Homo sapiens dianggap sebagai spesies yang istimewa jika dibandingkan spesies lainnya, karena budayanya yang unik. Berdasarkan definisi tersebut, perlu digarisbawahi adanya kesatuan antara biologi dan budaya manusia.

Adapun subjek dari penelitian mengenai ekologi manusia adalah manusia sebagai organisme dan manusia sebagai populasi serta interaksinya dengan lingkungan yang telah ada, khususnya hubungan antara aspek biologi, sosial, budaya, serta kondisi kehidupannya. Dalam hal ini, Ekologi Manusia modern dipahami sebagai sains transdisipliner mengenai populasi manusia dan budayanya, di mana manusia diperlakukan sebagai elemen kreatif dari ekosistem dan sistem sosial (Wolanski & Henneberg 2001). Dengan demikian, berdasarkan sudut pandang Ekologi Manusia, manusia menghadapi lingkungan untuk dapat sintas dengan dua cara, yakni adaptasi biologi dan adaptasi perilaku budaya.

Persamaan dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas ialah bahwa Ekologi Manusia merujuk pada suatu ilmu (oikos artinya “rumah/tempat tinggal”; logos artinya “ilmu”) dan mempelajari interaksi lingkungan dengan manusia sebagai perluasan dari konsep ekologi pada umumnya. Dalam beberapa hal, manusia menghadapi dorongan alam menggunakan budaya dan menciptakan kondisi baru untuk keberlangsungannya. Pengaruh aktivitas manusia pada lingkungan dan manusia lainnya dan pengaruh dari lingkungan terhadap manusia atau sekelompok manusia (keluarga, strata sosial, populasi) merupakan efek dari interaksi.

Proses dalam pemantauan status biologi dari populasi manusia berkaitan erat dengan status kesehatan, nutrisi, kemampuan reproduksi (fertilitas dan kesintasan). Sementara itu, proses dalam memonitor status sosio-kultural dari masyarakat terkait dengan institusi sosial, tradisi, tingkat teknologi, sistem ekonomi, dan sistem politik (Wolanski & Siniarska 2009). 


Bibliografi

Hawley, H. A. 1950. Human Ecology, A Theory of Community Structure. New York: The Ronald Press Company: 474 hlm.

Lopes, P. & A. Begossi. 2009. Current trends in Human Ecology. Cambridge Scholars Publishing: xii + 361 hlm.

Sutton, M. Q. & E. N. Anderson. 2010. Introduction to cultural ecology: Second Edition. Altamira Press, Maryland: xvii + 399 hlm.

Wolanski, N. & M. Henneberg. 2001. Perspective of Human Ecology. Human Ecology Special Issue. 10: 3—7.

Wolanski, N. & A. Siniarska. 2009. A model for human ecology. Dalam: Rudan, P. (ed). 2009. Physical (Biological) Anthropology. Encylopedia of Life Support System: 111—119.

Ringkasan Artikel Ilmiah: “Experimental Zoogeography of Islands: The Colonization of Empty Islands”

Saya mencoba merangkum sebuah artikel ilmiah berjudul "Experimental Zoogeography of Islands: The Colonization of Empty Islands" (Simberloff, D. S. & E. O. Wilson. 1969. Experimental zoogeography of islands: The colonization of empty islands. Ecology50(2): 278289).

Secara keseluruhan, peneliti ingin menguji teori keseimbangan biogeografi pulau MacArthur dan Wilson (1967), melalu pertanyaan-pertanyaan berikut: “Bagaimanakah proses rekolonisasi yang terjadi pada pulau yang kosong (telah dikosongkan)?”, “Bagaimanakah cara memberikan kriteria yang digunakan untuk menghitung spesies yang berkolonisasi?”, dan “Apakah eksperimen yang dilakukan sesuai dengan teori keseimbangan biogeografi pulau?”

Dalam teori MacArthur-Wilson tersebut, dasar kehidupan suatu pulau ditentukan oleh hubungan spesies-area, efek isolasi, dan pergantian spesies. Ternyata, diperlukan suatu studi lebih lanjut untuk menguji dan mengembangkan aspek-aspek dalam teori tersebut. Untuk itu, Simberloff dan Wilson melakukan eksperimen dengan memberikan perlakuan berupa defaunasi (dengan fumigasi metil bromida) pada enam pulau mangrove kecil di Teluk Florida, untuk melihat kembali proses rekolonisasi dan menguji kebenaran teori keseimbangan biogeografi pulau.

Metode yang digunakan ialah dengan melakukan eksperimen yang berulang dan terkontrol, menganalis imigrasi dan proses kepunahan dari spesies berdasarkan survey dan observasi langsung, mendiskusikan kriteria yang digunakan untuk menghitung spesies, serta mendiskusikan proses rekolonisasi yang terjadi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Simberloff dan Wilson ini mendukung teori keseimbangan biogeografi pulau MacArthur-Wilson tersebut. Dalam penelitian mereka, diperoleh hasil bahwa: (1) baik data hasil observasi maupun data iklim menunjukkan bahwa musim hanya sedikit berpengaruh terhadap kurva kolonisasi spesies vs waktu, (2) selama 250 hari setelah defaunasi, seluruh pulau yang diberi perlakuan (kecuali pulau terjauh) memperoleh jumlah dan komposisi spesies fauna yang sama dengan pulau yang tidak diberi perlakuan (distance effect), (3) kurva kolonisasi ditambah hasil observasi statis pada pulau yang tidak diberi perlakuan mengindikasikan kuat bahwa angka keseimbangan dinamis spesies berlaku untuk setiap pulau, (4) kepunahan dari koloni awal kemungkinan disebabkan oleh faktor fisik dan hanya sedikit yang disebabkan oleh kompetisi dan predasi, dan (5) laju pergantian (turnover rate) yang diamati cukup tinggi dan menunjukkan kesesuaian dengan laju pergantian yang diturunkan dari model keseimbangan MacArthur-Wilson.

Ringkasan Artikel Ilmiah: “Historical biogeography: A review of its basic concepts and critical issues”

Saya merangkum sebuah artikel ilmiah berjudul "Historical biogeography: A review of its basic concepts and critical issues" (Posadas, P., J. V. Crisci & L. Katinas. 2006. Historical biogeography: A review of its basic concepts and critical issues. Journal of Arid Environments. 66: 389—403).

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab penulis melalui studi literaturnya: “Bagaimana perkembangan dan status terkini dari biogeografi sejarah?”. Secara lebih mendetail, artikel ini ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: “Bagaimana perkembangan pemikiran dalam biogeografi sejarah sejak awal kemunculannya pada lebih dari dua abad yang lalu?”, “Apa saja konsep dasar dari masing-masing pendekatan biogeografi?”, dan “Apa saja isu-isu penting dalam biogeografi sejarah serta bagaimana cara mengatasinya?”. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif analisis dengan studi literatur. Data-data hasil studi literatur ditinjau ulang dan dianalisis untuk kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan.

Biogeografi, ilmu mengenai distribusi organisme, merupakan suatu disiplin ilmu yang sangat kompleks, yang terdiri atas studi-studi deskriptif serta interpretatif. Dalam biogeografi interpretatif, terdapat dua rumpun yang berkembang, yaitu biogeografi geografi sejarah dan biogeografi ekologi, di mana perbedaan utama di antara keduanya terletak pada skala waktu. Selama lebih dari 200 tahun sejak kemunculannya, sejarah biogeografi telah melewati berbagai perkembangan yang sangat luar biasa dalam hal pondasi, konsep dasar, metode, dan hubungannya dengan disiplin ilmu biologi lainnya.

Terdapat evolusi pemikiran dalam sejarah biogeografi. Pada abad ke-18 dan 19, pemikiran tentang biogeografi hanya berkembang dalam lingkup konsep geografi statis, sementara pada paruh kedua abad ke-20 pemikiran tersebut mengalami perkembangan yang sangat cepat; ditandai dengan munculnya berbagai pendekatan baru yang banyak dipengaruhi sistematika filogenetik, tektonik global, serta sistematika molekuler. Sementara itu, konsep-konsep dasar biogeografi sejarah tercakup ke dalam sembilan pendekatan berikut: pusat asal-usul dan dispersal, biogeografi filogenetik, area ancestral, panbiogeografi, biogeografi kladistik, analisis parsimoni dan endemisitas, metode event-based, filogeografi, dan biogeografi eksperimental. Kemudian, terdapat beberapa isu penting dalam biogeografi sejarah, yaitu (1) masalah pertentangan dalam biogeografi ekologi dan biogeografi sejarah (2) masalah dalam hal metode (3) masalah mengenai waktu,  dan (4) peranan biogeografi dalam konservasi biodiversitas, sehingga dibutuhkan suatu kerangka pemikiran konseptual yang baru yang dapat mengatasi berbagai permasalahan tersebut.

Biogeografi merupakan disiplin ilmu yang sangat kompleks. Biogeografi sejarah merupakan perpaduan dari ilmu geologi, geografi, dan biologi, dan perkembangannya sangat terpengaruh oleh paradigma yang berkembang dari bidang-bidang tersebut. Metode dalam biogeografi sejarah yang sangat beragam memang menjadikan metode-metode tersebut dapat diterapkan pada kondisi yang berbeda-beda, namun ternyata keragaman tersebut juga dapat menjadi sumber dari berbagai permasalahan.

May 22, 2014

Akhir dari Sebuah Pengkhianatan

Dini hari, pukul tiga pagi, saya terbangun karena merasakan sesuatu yang amat tak enak pada perut saya. Memang tak perih, tapi amat mual. Saya kira itu hanya masuk angin biasa (saya masih menggunakan istilah masuk angin, ya walaupun sebetulnya istilah tersebut tak tertera dalam dunia medis), yang memang sudah biasa saya alami. Saya pun menelan paracetamol, karena badan saya pun terasa hangat akibat demam. Satu jam kemudian, tak ada perubahan. Ada yang tak wajar. Saya pun menenggak satu bungkus tolak angin. Masih tak ada perubahan. Selain mual, saya pun merasakan sesak dan jantung berdebar-debar. Benar-benar ada yang tak beres. Ini bukan masuk angin biasa, pikir saya. Pukul setengah lima, ibu saya bangun. Saya pun mengutarakan apa yang saya alami. Beliau lantas membuatkan saya segelas teh manis hangat. Tak lama setelah saya meminum teh, saya langsung bergegas ke kamar kecil karena perut saya mulas. Setelah saya keluar dari kamar kecil, sekujur tubuh saya mengalami suatu hal yang sudah berabad-abad tidak saya rasakan (sedikit hiperbolis). Ya, saya muntah-muntah di lantai ruang tengah. Saya pun memanggil ibu saya. Sontak beliau berkata, "Ayo, nggak apa-apa, muntahin aja semuanya." Setelah agak reda, saya lari ke kamar kecil, dan melanjutkan muntah di sana. Ya, tumpah ruah. Saya muntah amat banyak. Sangat banyaknya hingga hingga saya panik dan lutut saya tremor. Maklum, terakhir kali saya mengalami muntah memang sudah sangat lama. Sempat terlintas di kepala saya ini, kalau saya muntaber, mengingat saya pun mengalami diare. 

Saya duduk beristirahat. Seisi perut saya terasa sangat kosong. Memang sih, setelah muntah saya merasa lebih baik. Sambil istirahat, pandangan saya tertuju pada ibu yang sedang membersihkan sisa-sisa muntah saya di lantai. Tiba-tiba mata saya basah. Ibu saya memang ibu terbaik di dunia. Ingin rasanya membantu beliau membersihkannya, tapi apa daya, saya begitu lemas. Beliau pun tak mengizinkan saya membantunya. "I love you, Mom..." batin saya. Setelah itu, beliau membalur punggung saya. Butuh sebutir paracetamol lagi hingga saya akhirnya bisa tertidur.

Terbangun. Saya masih merasa lemas. Wajar saja, muntah dan diare membuat saya dehidrasi. Siang harinya, walau masih merasa mual, saya memberanikan diri untuk makan, setidaknya agar ada asupan nutrisi dalam tubuh saya. Makanan yang saya coba makan ialah bubur bayi. Satu suap, dua suap, tiga suap... saya merasakannya lagi. Ah, apa lagi ini. Saya pun berhenti dan meminum air hangat. Tak lama, saya kembali memuntahkan semuanya. Belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Melalui sebuah grup di media sosial, saya menceritakan hal ini pada teman-teman dekat saya. Dua di antara mereka saya menduga kalau saya terkena maag kronis, hingga lambung membengkak dan terus-menerus mengeluarkan asam lambung. Mereka pernah mengalamai hal yang sama, dan menyarankan saya untuk pergi ke dokter. Mereka pun menyarankan saya untuk menghindari makanan pedas, asam, berlemak, dan bersantan, serta minuman seperti kopi, susu, dan teh. Ah. Setelah mendapat masukan, saya merasa lebih lega.

Dugaan-dugaan yang menghiasi kepala saya harus segera dibuktikan. Betul, saya perlu pembuktian. Ditemani ibu saya, saya pun pergi ke tempat praktik dokter yang letaknya tak jauh dari rumah. "Maag kamu kambuh. Asam lambung naik," ucap dokter. Ya, ya, ya. Dugaan saya terbukti. Dokter memberi saya tiga macam obat. Satu untuk mencegah mual, satu untuk mengobati lambung dan usus dua belas jari, dan satu untuk meredakan demam.

Tenggakan obat kelima, keesokan harinya. Badan saya sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Di saat begitu, saya mulai bisa berpikir jernih bahwa di balik sakit yang saya alami, saya amat bersyukur. Betapa saya selama ini terlalu jumawa, bahwa lambung saya amat kuat ditempa makanan jenis apapun. Betapa saya selama ini mengkhianati tubuh saya, dengan sering mengonsumsi santapan yang tak ramah perut. Betapa saya selama ini tak menghargai tubuh saya, dengan makan secara tak teratur. Dan sebagainya, dan sebagainya. Mulai saat itu, saya berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya tak akan berkhianat lagi. Ya. Selalu ada hikmah di balik sebuah cerita. :-)

Feb 19, 2014

Tentang Teori Evolusi

Tulisan ini dipicu oleh perasaan geram saya setelah membaca sebuah blog mengenai bantahan-bantahan terhadap Harun Yahya. Apakah saya geram karena tidak setuju dengan isi blog tersebut? Bukan. Saya geram terhadap komentar-komentar konyol terhadap isi blog tersebut. Tampaknya telah menjadi rahasia umum, bahwa banyak kreasionis penentang teori evolusi yang mengandalkan buku Harun Yahya yang berjudul "Keruntuhan Teori Evolusi" sebagai acuan mereka. Ah, Harun Yahya. Please, people. He is not a scientistHe's a fraud. Heran, masih saja banyak yang menggunakan bukunya sebagai acuan. Padahal, banyak sekali kebohongan dan kekonyolan yang dilakukannya untuk meruntuhkan teori evolusi, yang justru tak akan runtuh karenanya. 

Charles Darwin, ialah seorang naturalis yang oleh para kreasionis banyak dihujat karena teori evolusinya. Saya sendiri merupakan pengagum Darwin, dan saya pikir ia sangat jenius. Sebagai pengagumnya, saya tentu merupakan satu dari orang-orang yang menerima fakta bahwa makhluk hidup berevolusi. Sebagai sebuah teori ilmiah, teori evolusi berada dalam ranah sains (sebagai penekanan: ranah sains, bukan ranah iman). Dalam sains, adalah wajar jika suatu teori runtuh dan digantikan dengan teori yang lain. Akan tetapi, hingga saat ini, teori evolusi toh masih merupakan teori ilmiah yang dapat menjelaskan keanekaragaman makhluk hidup. Jika mengacu pada Karl Popper, teori yang baik ialah jika teori itu dapat membuat prediksi yang pada prinsipnya dapat disangkal atau dibuktikan keliru dengan penelitian. Tiap kali suatu penemuan baru memberi hasil yang cocok dengan prediksi, maka teori itu akan terus bertahan, dan keyakinan kita terhadapnya meningkat. Sebaliknya, jika ada penemuan baru yang tak cocok, teori tersebut harus ditinggalkan. Kenyataannya, sangkalan-sangkalan terhadap evolusi belum bisa mematahkan teori tersebut. Bahkan, saat ini teori evolusi semakin berkembang, seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu genetika. Sementara itu, di dalam ilmu biologi sendiri, teori evolusi sudah menjadi bagian amat penting. Mengutip Prof. Steve Jones, "The theory of evolution by natural selection is a bit like grammar of biology. You can't learn a language without at least understanding something about its grammar." Jadi, sangat aneh jika ada yang mengaku mempelajari biologi, tapi percaya bahwa keanekaragaman makhluk hidup yang ada saat ini terjadi bukan akibat evolusi.

Kembali pada kegeraman saya akan komentar-komentar para kreasionis yang konyol. Sempat suatu kali saya iseng melakukan pencarian di Twitter, dengan kata kunci "teori evolusi" dan "evolusi Darwin". Menakjubkan. Kebanyakan dari cuitan mereka berisi tentang penentangan serta caci maki terhadap teori evolusi, tanpa tahu seperti apa teori evolusi yang sebenarnya. Contoh kalimat tipikal yang sering mereka lontarkan ialah, "Ah. Teori evolusi sudah runtuh. Kalau teori evolusi itu ada, mengapa masih ada kera seperti sekarang yang tidak berbudaya?", atau "Teori evolusi Darwin mengatakan kalau manusia berasal dari monyet. Kalian mau disamakan dengan monyet?". Biasanya, mereka merupakan korban-korban doktrin Harun Yahya. Mereka tak paham, bahwa evolusi tidaklah berjalan linear seperti yang mereka bayangkan. Evolusi berjalan bercabang-cabang, layaknya pohon; the tree of life. Tak pernah sedikit pun Charles Darwin menyebutkan bahwa monyet merupakan nenek moyang manusia. Yang ada ialah, bahwa manusia dan bangsa kera saat ini memiliki moyang bersama (common ancestor). Selain itu, tak sedikit pula dari mereka yang menunjukkan keangkuhannya sebagai manusia. Mereka tempatkan makhluk hidup lain, terutama kera, dalam posisi yang hina. Mereka tak rela bahwa di dalam sains, khususnya di dalam ilmu biologi, kita, manusia, Homo sapiens sapiens, berada dalam kelompok Primata, kelompok yang sama dengan para kera. Yes, we are the fifth ape.

Sungguh, keangkuhan tersebut membuat saya muak. Hal ini juga yang membuat saya yakin, bahwa pertanyaan "Apakah Anda menerima teori evolusi?" menjadi pertanyaan yang amat penting dan kiranya dapat memprediksi bagaimana pandangan seseorang terhadap alam. Menurut saya, jika seseorang benar-benar memahami teori evolusi, maka implikasinya ialah bahwa ia akan lebih menghargai keberadaan setiap makhluk hidup. Ia akan memandang bahwa posisi kita, manusia, sama dengan makhluk hidup lain di dunia ini. Memang, dalam beberapa hal, kita, manusia lebih maju, karena otak kita memang mengalami perkembangan yang lebih pesat dibanding makhluk hidup lainnya. Ya, otak manusia merupakan produk evolusi terkompleks. Tapi itu mestinya tak membuat kita sombong, toh. Kita bersama dengan makhluk hidup yang ada saat ini, pada dasarnya sama. We are all survivors.

Sudah semestinya kita berterima kasih kepada Charles Darwin, dan juga Alfred Russel Wallace, karena tanpa pemikiran mereka, mungkin kita tak akan menyadari bahwa makhluk hidup yang beraneka ragam di muka bumi ini, baik mikroskopik maupun makroskopik, ialah terkait satu sama lain. Tanpa bermaksud meromantisasi, tapi hal ini terasa sangat indah, bukan? Pengetahuan mengenai apa dan bagaimana teori evolusi itu sebenarnya sudah selayaknya lebih disosialisasikan, agar tak lagi muncul miskonsepsi dan kesalahpahaman tentang teori evolusi itu sendiri. 

Jan 9, 2014

Forever Young or Forever Childish? A Short Note To Self.

"Growing old is mandatory, growing up is optional." 

Agreed. As we (literally) grow old, some of us choose to be 'forever young' while some others choose to 'grow up'.
Everyone has a right to choose, of course.  
And so do I.

I choose to be youthful.
I wanna be forever young.
But I have to bear in mind, that no matter how youthful I am (or I think I am), maturity of thinking is needed. Being youthful and being childish are two different things. 

All of a sudden a nice quote from Daniel Prokop crossed my mind.
"In a desperate attempt to stay young forever, we have achieved eternal childishness, rather than eternal youth."

Well said.

Jan 8, 2014

Renungan Pergantian Tahun

Setiap pergantian tahun tiba, ada beberapa pertanyaan yang jamak dipertanyakan, yakni tentang pencapaian apa saja yang berhasil tercapai di tahun lalu, hal-hal apa saja yang belum dicapai pada tahun lalu, serta apa keinginan ataupun  resolusi di tahun yang baru. Biasanya, saya tak pernah benar-benar menuliskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kali ini, saya ingin mencoba merekamnya dalam bentuk tulisan supaya mungkin suatu hari nanti dapat mengingatkan kembali akan tujuan-tujuan saya.

Oke, berikut ini merupakan pencapaian terbesar saya pada tahun 2013 berikut segelintir cerita di baliknya.
  • Saya berhasil menyelesaikan penelitian saya tepat waktu. Saya sempat pesimis apakah penelitian saya akan molor karena ada beberapa masalah, utamanya dalam hal mengumpulkan masyarakat lokal untuk diskusi kelompok fokus. Keajaiban demi keajaiban terjadi pada injury time --mungkin akan saya ceritakan tentang pengalaman saya di lokasi penelitian di lain kesempatan-- penelitian saya pun bisa tuntas. Saya kira, ada campur tangan Semesta di sini.
  • Saya resmi menjadi Magister Sains pada bulan Agustus, setelah menjalani seminar hasil pada bulan Juni dan seminar sidang pada bulan Juli. Dan alhamdulillah puji syukur, selain lulus tepat waktu, saya memperoleh bonus cum laude. Saya anggap ini sebagai reward terhadap apa yang saya lakukan selama dua tahun ini. Akan tetapi, saya tentu tidak ingin tenggelam dalam euforia. Apa yang terjadi pada hari kelulusan merupakan awal dari segalanya. Pun, saya sadar bahwa sebuah gelar merupakan suatu tantangan untuk diri saya sendiri agar saya dapat mempertanggungjawabkan gelar tersebut. 
  • Lebih kurang sebulan setelah hari wisuda, saya mendapat kesempatan mengajar di sebuah universitas. Walaupun bukan pengajar tetap, namun saya telah mulai memasuki dunia yang sebenarnya. Dunia yang pernah saya sebut sebagai "dunia orang dewasa". Akhirnya saya mengalami apa yang teman-teman sebaya saya rasakan, hehe...
  • Saya memperoleh gaji pertama saya. Saya memang belum pernah mencicipi dunia kerja sebelumnya, karena setelah lulus S1, saya langsung melanjutkan sekolah lagi. Hal pertama yang saya lakukan ialah mentraktir orang-orang terdekat saya. Percayalah, rasanya bahagia sekali! 
Selanjutnya, resolusi saya di tahun 2014. Terkadang orang menyamakan keinginan dengan resolusi. Saya sendiri mengartikan keduanya secara berbeda. Resolusi merupakan bagian dari keinginan. Dalam resolusi, saya menjalankan solusi dari hal-hal yang tidak tercapai pada tahun sebelumnya. Re-solusi. 
  • Hasil penelitian saya belum dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Ini merupakan hal yang sangat mengganjal hati saya. Rasanya seperti memiliki utang kepada diri sendiri dan dua orang dosen pembimbing saya. Resolusi: membuat terjemahan hasil penelitian saya dan mengupayakan agar artikel saya dimuat di sebuah jurnal ilmiah. 
  • Saya belum mendapat pekerjaan yang benar-benar sesuai minat saya, yakni seorang dosen biologi ataupun menjadi peneliti. Resolusi: Mencari pekerjaan yang sesuai dan melamar pekerjaan pada posisi tersebut.
  • Saya merasa kegiatan berolahraga saya kurang optimal pada tahun 2013. Resolusi: Mengatur jadwal berolahraga. Olahraga yang sederhana saja, yang bisa dilakukan di rumah. 
  • Tahun-tahun lalu merupakan tahun di mana saya mengerahkan pikiran saya dalam hal akademis. Banyak hal yang terlupakan seperti memanjakan diri dengan berlibur, menggambar, mengunjungi acara musik, dan sebagainya. Resolusi: Perbanyak vakansi di waktu-waktu senggang, kunjungi tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru, dan sebagainya. Yosh!
  • Tahun lalu, pustaka yang saya baca umumnya merupakan buku-buku dan jurnal ilmiah terkait penelitian saya. Tahun ini, bahan bacaan saya harus lebih variatif. Resolusi: Banyak membaca buku lintas bidang.
  • Tahun lalu memang salah satu pencapaian terbesar saya berhasil dicapai. Tahun ini, saya ingin pencapaian dalam hal lain, yakni dapat membahagiakan diri saya dan orang-orang yang saya sayangi.
Semoga apa yang saya harapkan dapat menjadi kenyataan. Selamat Tahun Baru 2014!