Feb 18, 2018

Tentang Bahasa

Berbicara tentang bahasa, sewaktu saya sekolah dulu, bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang saya sukai, selain biologi dan sejarah. Saya termasuk beruntung karena sedari kecil, ayah saya sudah mengajarkan betapa pentingnya mempelajari bahasa Indonesia, berikut dengan penggunaannya.

Penggunaan bahasa yang baik dan benar tentu disesuaikan dengan situasi dan ranahnya, baik formal atau nonformal. Dengan siapa kita menuturkan bahasa tersebut turut pula menentukan bahasa yang kita gunakan saat itu. Bahasa yang dipakai ketika menulis di media sosial tentu berbeda dengan bahasa yang digunakan saat menulis jurnal ilmiah.

Seorang dosen pernah berkata, sebagai alat komunikasi, bahasa dapat menunjukkan logika berpikir seseorang. Dalam bidang sains, khususnya, beliau menekankan bahwa penggunaan bahasa yang tepat amatlah penting bagi seorang ilmuwan untuk dapat mengomunikasikan hasil temuannya tanpa menimbulkan miskonsepsi.

Bahasa Indonesia memang tampak sederhana. Sepintas, ia hanya dipandang sebatas bahasa dengan tata bahasa dan pelafalan yang mudah. Saya setuju dengan premis ini, jika sekadar dihadapkan pada penggunaannya dalam ranah percakapan yang kasual. Sesungguhnya, jika ditelisik lebih jauh, bahasa Indonesia sangatlah kompleks. Oleh karena itu, sebagai seseorang yang bukan ahli bahasa, saya masih terus mempelajari bahasa Indonesia hingga sekarang. Apalagi, saya percaya bahasa ialah sebuah sistem yang senantiasa berkembang seiring dengan berkembangnya zaman.

Pekerjaan saya saat ini menuntut penggunaan bahasa Inggris secara lisan dan tulisan dengan kadar yang amat tinggi, setiap harinya. Dampaknya, tak jarang saya melontarkan kalimat bahasa Inggris di luar lingkungan pekerjaan, terutama di media sosial, hehe. Sebetulnya alasan terbesar saya ialah karena saya ingin banyak teman saya yang tidak berbahasa Indonesia dengan mudah memahami apa yang saya tulis. Itu saja. Meskipun demikian, sebisa mungkin, saya pribadi memilih untuk tidak mencampurbaurkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam satu kalimat yang sama, terlebih dalam ranah formal. Lagi-lagi, semua disesuaikan dengan suasana dan ranahnya, ya. 

May 6, 2016

Beradaptasilah untuk Bertahan Hidup!

Kegigihan Jerinx Superman Is Dead (SID) dalam menolak proyek reklamasi Teluk Benoa mengingatkan saya dengan sosok bernama I Wayan Patut. Sama-sama dari Bali, sama-sama bertubuh kekar dan berkulit gelap, dan sama-sama gigih dalam memperjuangkan alam Bali. Wayan Patut ibarat Jerinx dari Pulau Serangan. Saat akan melakukan sebuah penelitian di pulau itu tiga tahun yang lalu, seseorang berkata begini: "Kalau kamu mau penelitian di sini, kamu harus banyak bergaul dengan Wayan Patut. Dia orang paling nyeleneh di sini."

Ya, memang betul. Jika berada di Serangan, tanyakan pada penduduknya. Siapa yang tak kenal Wayan Patut. Seorang pejuang alam yang vokal dan gigih menolak reklamasi Serangan, meski akhirnya reklamasi dijalankan pada tahun 1990-an. Seorang ketua Kelompok Nelayan Karya Segara yang menginisiasi program ekowisata dan edukasi berbasis masyarakat. Seorang peraih Kalpataru sebagai penyelamat lingkungan atas usahanya merehabilitasi berhektar-hektar terumbu karang.

Reklamasi Pulau Serangan telah mengubah wajah keseluruhan pulau tersebut. Dampak ekologis yang ditimbulkan pengurugan tersebut antara lain perubahan arus laut serta kerusakan padang lamun, terumbu karang, dan mangrove. Tentu hal tersebut berpengaruh terhadap jumlah tangkapan para nelayan. Dampak ekologis pun berimbas pada surutnya mata pencaharian nelayan saat itu. Para nelayan pun berbondong-bondong menambang karang hingga banyak terumbu karang di sekitar Serangan rusak. Buruknya lagi, kerusakan terumbu karang tersebut semakin menyurutkan jumlah ikan yang hidup di perairan Serangan.

Di tengah kondisi yang carut-marut itu, Wayan Patut merasa bahwa ia harus bergerak dan melakukan sesuatu bagi tanah kelahirannya. Ia tak tahan dengan keadaan yang ada. Yang ia pikirkan saat itu ialah bagaimana caranya agar masyarakat berhenti menambang karang, namun dapat tetap memiliki mata pencaharian untuk menyambung hidup. Ya, sebuah konsep "mencari uang" dengan kaidah keberlanjutan. 

Wayan Patut, yang sadar bahwa pulaunya tak lagi sama, mengerti bahwa pembangunan di pulaunya akan tergerus arus pariwisata seperti yang lumrah terjadi pada wilayah lain di Bali. Dengan caranya, ia mengajak rekan-rekan sesama nelayan untuk mendirikan Karya Segara, sebuah kelompok nelayan yang menjadikan penanaman terumbu karang sebagai mata pencaharian. Kelompoknya juga giat memberi edukasi bagi anak-anak Serangan tentang pentingnya terumbu karang bagi hidup mereka. Penghasilan didapat, namun alam tetap dijaga. Inilah salah satu bentuk konservasi yang saya tahu; di samping melindungi alam, kita juga memanfaatkannya secara lestari. Cerdas.

Bagi saya, pria itu mengajarkan saya bahwa kita bisa saja menjadi idealis dengan segala macam idealisme yang kita anut, akan tetapi kita juga harus bisa tetap realistis untuk dapat beradaptasi dengan perubahan; agar bisa bertahan hidup. "It is not the strongest nor the most intelligent who will survive. It is the one who is most adaptable to change."

Sungai untuk Semua

'Sungai untuk Semua" ialah sebuah film dokumenter pendek tentang betapa pentingnya Sungai Subayang bagi masyarakat lokal Rimbang Baling yang terletak di Provinsi Riau.

Indonesia merupakan negara megadiversitas. Tiap-tiap budaya tradisional di negeri Nusantara itu adalah unik. Di dalamnya, terkandung interpretasi yang beragam akan alam. Terkandung beranekarupa kearifan lokal tentang bagaimana masyarakat tradisional hidup berdampingan dengannya dan berupaya memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Masyarakat Rimbang Baling yang hidup di sekitar Sungai Sebayang, Provinsi Riau, adalah satu dari sekian banyak masyarakat lokal yang menyadari arti penting bentang alam dan isinya bagi kehidupan mereka. Mereka sadar akan kebergantungannya pada alam, pun tahu bahwa jika kerusakan alam akan berdampak langsung pada keberlangsungan hidup mereka.

Bagi saya, film dokumenter pendek yang diproduksi oleh WWF Indonesia ini kembali menyentil kita, masyarakat yang (mungkin) melabeli dirinya sebagai entitas urban nan modern, agar dapat belajar dari masyarakat lokal dengan segala kearifannya. :)

Sep 29, 2014

Ekologi Manusia: Definisi dan Konsep

Definisi tentang Ekologi Manusia (human ecology) mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dahulu, Ekologi Manusia dipandang sebagai ilmu monodisipliner. Pada tahun 1916, istilah Ekologi Manusia dikemukakan untuk pertama kalinya oleh Huntington, yakni sebuah konsep baru untuk menjelaskan entitas dari hubungan antara konten geologis, lanskap, dan objek pada permukaannya serta analisis populasi manusia dan produk budaya pada latar belakang lingkungan (Wolanski & Siniarska 2009). Dalam hal ini, faktor iklim dan variasinyalah yang menentukan kapasitas manusia. Dua puluh tahun kemudian, Ekologi Manusia dipahami sebagai suatu disiplin ilmu yang disebut juga epidemiologi, yang mencakup perihal lingkungan penyebab penyakit.

Sejak tahun 1964, Ekologi Manusia berkembang sebagai ilmu yang multidisipliner. Pengertian Ekologi Manusia pada masa kini pun lebih kompleks dibandingkan dengan sebelumnya. Menurut Sutton & Anderson (2010), Ekologi Manusia adalah studi mengenai hubungan dan interaksi antara manusia, biologinya, budayanya, serta lingkungan fisiknya. Di bawah disiplin ilmu ini, budaya dan perilaku manusia tidak hanya dipandang sebagai produk masyarakat, tetapi juga sebagai hasil dari pengaruh dan interaksi dengan variabel fisik dan biologi (Lopes & Begossi 2009).

Di samping itu, Ekologi Manusia juga didefinisikan sebagai sains tentang Homo sebagai genus biologi dan budayanya sebagai komponen dinamis dalam ekosistem (Wolanski & Siniarska 2009). Homo sapiens dianggap sebagai spesies yang istimewa jika dibandingkan spesies lainnya, karena budayanya yang unik. Berdasarkan definisi tersebut, perlu digarisbawahi adanya kesatuan antara biologi dan budaya manusia.

Adapun subjek dari penelitian mengenai ekologi manusia adalah manusia sebagai organisme dan manusia sebagai populasi serta interaksinya dengan lingkungan yang telah ada, khususnya hubungan antara aspek biologi, sosial, budaya, serta kondisi kehidupannya. Dalam hal ini, Ekologi Manusia modern dipahami sebagai sains transdisipliner mengenai populasi manusia dan budayanya, di mana manusia diperlakukan sebagai elemen kreatif dari ekosistem dan sistem sosial (Wolanski & Henneberg 2001). Dengan demikian, berdasarkan sudut pandang Ekologi Manusia, manusia menghadapi lingkungan untuk dapat sintas dengan dua cara, yakni adaptasi biologi dan adaptasi perilaku budaya.

Persamaan dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas ialah bahwa Ekologi Manusia merujuk pada suatu ilmu (oikos artinya “rumah/tempat tinggal”; logos artinya “ilmu”) dan mempelajari interaksi lingkungan dengan manusia sebagai perluasan dari konsep ekologi pada umumnya. Dalam beberapa hal, manusia menghadapi dorongan alam menggunakan budaya dan menciptakan kondisi baru untuk keberlangsungannya. Pengaruh aktivitas manusia pada lingkungan dan manusia lainnya dan pengaruh dari lingkungan terhadap manusia atau sekelompok manusia (keluarga, strata sosial, populasi) merupakan efek dari interaksi.

Proses dalam pemantauan status biologi dari populasi manusia berkaitan erat dengan status kesehatan, nutrisi, kemampuan reproduksi (fertilitas dan kesintasan). Sementara itu, proses dalam memonitor status sosio-kultural dari masyarakat terkait dengan institusi sosial, tradisi, tingkat teknologi, sistem ekonomi, dan sistem politik (Wolanski & Siniarska 2009). 


Bibliografi

Hawley, H. A. 1950. Human Ecology, A Theory of Community Structure. New York: The Ronald Press Company: 474 hlm.

Lopes, P. & A. Begossi. 2009. Current trends in Human Ecology. Cambridge Scholars Publishing: xii + 361 hlm.

Sutton, M. Q. & E. N. Anderson. 2010. Introduction to cultural ecology: Second Edition. Altamira Press, Maryland: xvii + 399 hlm.

Wolanski, N. & M. Henneberg. 2001. Perspective of Human Ecology. Human Ecology Special Issue. 10: 3—7.

Wolanski, N. & A. Siniarska. 2009. A model for human ecology. Dalam: Rudan, P. (ed). 2009. Physical (Biological) Anthropology. Encylopedia of Life Support System: 111—119.

Ringkasan Artikel Ilmiah: “Experimental Zoogeography of Islands: The Colonization of Empty Islands”

Saya mencoba merangkum sebuah artikel ilmiah berjudul "Experimental Zoogeography of Islands: The Colonization of Empty Islands" (Simberloff, D. S. & E. O. Wilson. 1969. Experimental zoogeography of islands: The colonization of empty islands. Ecology50(2): 278289).

Secara keseluruhan, peneliti ingin menguji teori keseimbangan biogeografi pulau MacArthur dan Wilson (1967), melalu pertanyaan-pertanyaan berikut: “Bagaimanakah proses rekolonisasi yang terjadi pada pulau yang kosong (telah dikosongkan)?”, “Bagaimanakah cara memberikan kriteria yang digunakan untuk menghitung spesies yang berkolonisasi?”, dan “Apakah eksperimen yang dilakukan sesuai dengan teori keseimbangan biogeografi pulau?”

Dalam teori MacArthur-Wilson tersebut, dasar kehidupan suatu pulau ditentukan oleh hubungan spesies-area, efek isolasi, dan pergantian spesies. Ternyata, diperlukan suatu studi lebih lanjut untuk menguji dan mengembangkan aspek-aspek dalam teori tersebut. Untuk itu, Simberloff dan Wilson melakukan eksperimen dengan memberikan perlakuan berupa defaunasi (dengan fumigasi metil bromida) pada enam pulau mangrove kecil di Teluk Florida, untuk melihat kembali proses rekolonisasi dan menguji kebenaran teori keseimbangan biogeografi pulau.

Metode yang digunakan ialah dengan melakukan eksperimen yang berulang dan terkontrol, menganalis imigrasi dan proses kepunahan dari spesies berdasarkan survey dan observasi langsung, mendiskusikan kriteria yang digunakan untuk menghitung spesies, serta mendiskusikan proses rekolonisasi yang terjadi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Simberloff dan Wilson ini mendukung teori keseimbangan biogeografi pulau MacArthur-Wilson tersebut. Dalam penelitian mereka, diperoleh hasil bahwa: (1) baik data hasil observasi maupun data iklim menunjukkan bahwa musim hanya sedikit berpengaruh terhadap kurva kolonisasi spesies vs waktu, (2) selama 250 hari setelah defaunasi, seluruh pulau yang diberi perlakuan (kecuali pulau terjauh) memperoleh jumlah dan komposisi spesies fauna yang sama dengan pulau yang tidak diberi perlakuan (distance effect), (3) kurva kolonisasi ditambah hasil observasi statis pada pulau yang tidak diberi perlakuan mengindikasikan kuat bahwa angka keseimbangan dinamis spesies berlaku untuk setiap pulau, (4) kepunahan dari koloni awal kemungkinan disebabkan oleh faktor fisik dan hanya sedikit yang disebabkan oleh kompetisi dan predasi, dan (5) laju pergantian (turnover rate) yang diamati cukup tinggi dan menunjukkan kesesuaian dengan laju pergantian yang diturunkan dari model keseimbangan MacArthur-Wilson.

Ringkasan Artikel Ilmiah: “Historical biogeography: A review of its basic concepts and critical issues”

Saya merangkum sebuah artikel ilmiah berjudul "Historical biogeography: A review of its basic concepts and critical issues" (Posadas, P., J. V. Crisci & L. Katinas. 2006. Historical biogeography: A review of its basic concepts and critical issues. Journal of Arid Environments. 66: 389—403).

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab penulis melalui studi literaturnya: “Bagaimana perkembangan dan status terkini dari biogeografi sejarah?”. Secara lebih mendetail, artikel ini ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: “Bagaimana perkembangan pemikiran dalam biogeografi sejarah sejak awal kemunculannya pada lebih dari dua abad yang lalu?”, “Apa saja konsep dasar dari masing-masing pendekatan biogeografi?”, dan “Apa saja isu-isu penting dalam biogeografi sejarah serta bagaimana cara mengatasinya?”. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif analisis dengan studi literatur. Data-data hasil studi literatur ditinjau ulang dan dianalisis untuk kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan.

Biogeografi, ilmu mengenai distribusi organisme, merupakan suatu disiplin ilmu yang sangat kompleks, yang terdiri atas studi-studi deskriptif serta interpretatif. Dalam biogeografi interpretatif, terdapat dua rumpun yang berkembang, yaitu biogeografi geografi sejarah dan biogeografi ekologi, di mana perbedaan utama di antara keduanya terletak pada skala waktu. Selama lebih dari 200 tahun sejak kemunculannya, sejarah biogeografi telah melewati berbagai perkembangan yang sangat luar biasa dalam hal pondasi, konsep dasar, metode, dan hubungannya dengan disiplin ilmu biologi lainnya.

Terdapat evolusi pemikiran dalam sejarah biogeografi. Pada abad ke-18 dan 19, pemikiran tentang biogeografi hanya berkembang dalam lingkup konsep geografi statis, sementara pada paruh kedua abad ke-20 pemikiran tersebut mengalami perkembangan yang sangat cepat; ditandai dengan munculnya berbagai pendekatan baru yang banyak dipengaruhi sistematika filogenetik, tektonik global, serta sistematika molekuler. Sementara itu, konsep-konsep dasar biogeografi sejarah tercakup ke dalam sembilan pendekatan berikut: pusat asal-usul dan dispersal, biogeografi filogenetik, area ancestral, panbiogeografi, biogeografi kladistik, analisis parsimoni dan endemisitas, metode event-based, filogeografi, dan biogeografi eksperimental. Kemudian, terdapat beberapa isu penting dalam biogeografi sejarah, yaitu (1) masalah pertentangan dalam biogeografi ekologi dan biogeografi sejarah (2) masalah dalam hal metode (3) masalah mengenai waktu,  dan (4) peranan biogeografi dalam konservasi biodiversitas, sehingga dibutuhkan suatu kerangka pemikiran konseptual yang baru yang dapat mengatasi berbagai permasalahan tersebut.

Biogeografi merupakan disiplin ilmu yang sangat kompleks. Biogeografi sejarah merupakan perpaduan dari ilmu geologi, geografi, dan biologi, dan perkembangannya sangat terpengaruh oleh paradigma yang berkembang dari bidang-bidang tersebut. Metode dalam biogeografi sejarah yang sangat beragam memang menjadikan metode-metode tersebut dapat diterapkan pada kondisi yang berbeda-beda, namun ternyata keragaman tersebut juga dapat menjadi sumber dari berbagai permasalahan.

May 22, 2014

Akhir dari Sebuah Pengkhianatan

Dini hari, pukul tiga pagi, saya terbangun karena merasakan sesuatu yang amat tak enak pada perut saya. Memang tak perih, tapi amat mual. Saya kira itu hanya masuk angin biasa (saya masih menggunakan istilah masuk angin, ya walaupun sebetulnya istilah tersebut tak tertera dalam dunia medis), yang memang sudah biasa saya alami. Saya pun menelan paracetamol, karena badan saya pun terasa hangat akibat demam. Satu jam kemudian, tak ada perubahan. Ada yang tak wajar. Saya pun menenggak satu bungkus tolak angin. Masih tak ada perubahan. Selain mual, saya pun merasakan sesak dan jantung berdebar-debar. Benar-benar ada yang tak beres. Ini bukan masuk angin biasa, pikir saya. Pukul setengah lima, ibu saya bangun. Saya pun mengutarakan apa yang saya alami. Beliau lantas membuatkan saya segelas teh manis hangat. Tak lama setelah saya meminum teh, saya langsung bergegas ke kamar kecil karena perut saya mulas. Setelah saya keluar dari kamar kecil, sekujur tubuh saya mengalami suatu hal yang sudah berabad-abad tidak saya rasakan (sedikit hiperbolis). Ya, saya muntah-muntah di lantai ruang tengah. Saya pun memanggil ibu saya. Sontak beliau berkata, "Ayo, nggak apa-apa, muntahin aja semuanya." Setelah agak reda, saya lari ke kamar kecil, dan melanjutkan muntah di sana. Ya, tumpah ruah. Saya muntah amat banyak. Sangat banyaknya hingga hingga saya panik dan lutut saya tremor. Maklum, terakhir kali saya mengalami muntah memang sudah sangat lama. Sempat terlintas di kepala saya ini, kalau saya muntaber, mengingat saya pun mengalami diare. 

Saya duduk beristirahat. Seisi perut saya terasa sangat kosong. Memang sih, setelah muntah saya merasa lebih baik. Sambil istirahat, pandangan saya tertuju pada ibu yang sedang membersihkan sisa-sisa muntah saya di lantai. Tiba-tiba mata saya basah. Ibu saya memang ibu terbaik di dunia. Ingin rasanya membantu beliau membersihkannya, tapi apa daya, saya begitu lemas. Beliau pun tak mengizinkan saya membantunya. "I love you, Mom..." batin saya. Setelah itu, beliau membalur punggung saya. Butuh sebutir paracetamol lagi hingga saya akhirnya bisa tertidur.

Terbangun. Saya masih merasa lemas. Wajar saja, muntah dan diare membuat saya dehidrasi. Siang harinya, walau masih merasa mual, saya memberanikan diri untuk makan, setidaknya agar ada asupan nutrisi dalam tubuh saya. Makanan yang saya coba makan ialah bubur bayi. Satu suap, dua suap, tiga suap... saya merasakannya lagi. Ah, apa lagi ini. Saya pun berhenti dan meminum air hangat. Tak lama, saya kembali memuntahkan semuanya. Belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Melalui sebuah grup di media sosial, saya menceritakan hal ini pada teman-teman dekat saya. Dua di antara mereka saya menduga kalau saya terkena maag kronis, hingga lambung membengkak dan terus-menerus mengeluarkan asam lambung. Mereka pernah mengalamai hal yang sama, dan menyarankan saya untuk pergi ke dokter. Mereka pun menyarankan saya untuk menghindari makanan pedas, asam, berlemak, dan bersantan, serta minuman seperti kopi, susu, dan teh. Ah. Setelah mendapat masukan, saya merasa lebih lega.

Dugaan-dugaan yang menghiasi kepala saya harus segera dibuktikan. Betul, saya perlu pembuktian. Ditemani ibu saya, saya pun pergi ke tempat praktik dokter yang letaknya tak jauh dari rumah. "Maag kamu kambuh. Asam lambung naik," ucap dokter. Ya, ya, ya. Dugaan saya terbukti. Dokter memberi saya tiga macam obat. Satu untuk mencegah mual, satu untuk mengobati lambung dan usus dua belas jari, dan satu untuk meredakan demam.

Tenggakan obat kelima, keesokan harinya. Badan saya sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Di saat begitu, saya mulai bisa berpikir jernih bahwa di balik sakit yang saya alami, saya amat bersyukur. Betapa saya selama ini terlalu jumawa, bahwa lambung saya amat kuat ditempa makanan jenis apapun. Betapa saya selama ini mengkhianati tubuh saya, dengan sering mengonsumsi santapan yang tak ramah perut. Betapa saya selama ini tak menghargai tubuh saya, dengan makan secara tak teratur. Dan sebagainya, dan sebagainya. Mulai saat itu, saya berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya tak akan berkhianat lagi. Ya. Selalu ada hikmah di balik sebuah cerita. :-)