Hari ini, 5 Juni 2012, merupakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang bertepatan dengan dicanangkannya Tahun Badak Internasional. Tahun Badak Internasional merupakan suatu peringatan yang digagaskan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) beserta negara-negara yang merupakan wilayah sebaran habitat badak di dunia.
Badak merupakan hewan bercula yang keberadaannya semakin terancam. Di Indonesia, terdapat dua spesies badak, yakni badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Berdasarkan IUCN Red List, kedua spesies karismatik tersebut termasuk dalam kategori Critically Endangered (sangat terancam). Wajar saja, menurut WWF, jumlah perkiraan populasi badak jawa diketahui hanya sekitar 50 sementara badak sumatera hanya sekitar 200.
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah artikel di Kompas dengan judul "Indonesia Menanti Kelahiran Badak Pertama".
"Setelah lebih dari 124 tahun upaya penangkaran, Indonesia menantikan kelahiran anak badak Sumatera yang kini tinggal di Suaka Badak Sumatera Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Seekor badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) betina berusia 13 tahun bernama Ratu yang kini tengah hamil tua diperkirakan melahirkan anaknya antara bulan Juni sampai Juli mendatang."
Wah, saya turut senang! Pasalnya, "menjodohkan badak" sumatera bukanlah hal yang mudah. Berbagai upaya penangkaran perjodohan pun belum ada yang membuahkan hasil. Hal tersebut sontak mengingatkan saya pada kisah menarik dalam penangkaran badak sumatera di Way Kambas yang pernah diceritakan oleh dosen saya.
Suaka Badak Sumatera Way Kambas berada di lahan seluas 100 hektar. Ada empat ekor badak yang ditempatkan di sana, yakni seekor jantan bernama Torgamba dan tiga ekor betina bernama Rosa, Ratu, dan Bina. Dari ketiga ekor badak betina tersebut, tidak satupun badak betina yang berhasil melahirkan. Pernah suatu ketika, Ratu berhasil hamil, namun ia keguguran. Duh, sulit sekali ya.
Kemudian, Suaka Badak Sumatera Way Kambas (Way Kambas Sumatran Rhino Sanctuary) pun bekerja sama dengan Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat. Singkat cerita, setelah riset selama bertahun-tahun, lahirlah Andalas pada bulan September tahun 2000 di kebun binatang tersebut. Dikatakan bahwa Andalas merupakan prestasi dalam upaya penangkaran badak, karena merupakan satu-satunya badak yang dapat lahir di penangkaran dalam kurun waktu 112 tahun terakhir. Setelah ditinggal mati induknya, Andalas pun dikirim ke Way Kambas pada tahun 2007. Ia menjadi salah satu tonggak harapan untuk menyelamatkan kelangsungan badak sumatera.
Saat tiba di Indonesia, Andalas menjadi manja karena ia sudah terbiasa tinggal di Amerika. Ia harus terus-menerus ditemani oleh para staf untuk dapat beradaptasi di lingkungan Way Kambas. Di antara para betina, Ratu lah yang tertarik pada Andalas. Upaya "pencomblangan" antara Ratu dan Andalas pun terus dilakukan. Akan tetapi, proses tersebut tidak begitu saja membuahkan hasil. Pada tahun 2010, Ratu sempat hamil. Sayangnya, Ratu kembali keguguran.
Nah, akhirnya, seperti yang diberitakan salam sebuah artikel di Kompas tersebut, Ratu kembali hamil setelah proses yang begitu panjang dan rumit. Mari kita sama-sama berdoa agar proses kelahiran badak pertama di penangkaran di Indonesia tersebut berjalan lancar. Berikut kutipan yang kembali saya kutip dari Kompas.
"Pada masa kehamilan yang ketiga kali ini, pemerintah sangat menjaga Ratu. Segala jenis asupan suplemen dan hormon diberikan kepada Ratu untuk menghindari keguguran. Bahkan kandang Ratu di Way Kambas ditutup supaya si induk tidak stres."
Nah, jika nantinya anak dari Ratu dan Andalas bisa lahir dengan selamat, tentu akan menjadi salah satu kado indah dalam peringatan Tahun Badak Internasional.
Happy International Year of Rhino!
Sumber gambar: http://www.rhinos-irf.org/srs/





















