Oct 2, 2012

Burung Nabrak Jendela

"Mbak, ini ada burung nabrak jendela!" tiba-tiba Teh Nunik, teteh yang biasa bantu-bantu di rumah, berteriak dari beranda di belakang rumah. Saya yang sedang asyik di depan laptop langsung beranjak menghampiri Teh Nunik. Wah, ternyata burung yang menabrak jendela itu si biru pemakan ikan.

Si burung biru itu memang sering terlihat nangkring di halaman belakang rumah, di pohon-pohon kecil dekat kolam ikan. Setelah menabrak jendela, kondisinya tampak syok dan lemas. Kalau di film-film kartun nih, pasti di atas kepala dia sudah ada spiral-spiralnya tuh. Ohya, karena burung ini lincah, maka sebelum dia tersadar dan terbang ngebut lagi, saya foto dulu deh untuk dokumentasi.

Ini dia, si cantik Alcedo atthis (Latin) alias common kingfisher (Inggris) alias raja udang (Indonesia), atau kalau kata Teh Nunik yang merupakan orang Sunda, burung huhurangan.


Dan benar saja, tidak lama setelah saya foto, si burung berputar-putar dan akhirnya meluncur terbang kembali.

See you again, dear birdie!

Aug 10, 2012

Ecological Economics?

Conservation biology is a multidisciplinary field. It's tied to other fields, one of them is economics. I personally had always thought that all economics fields related to environment or nature are merely the same. Environmental economics and resource economics, for example. Hearing the word "ecological economics", what was crossing my mind is that the material wouldn't be distinctive to both fields. But hey, I was wrong. Mr. Sonny Mumbunan, an ecological economist, told me that ecological economics is way different from environmental economics or even resource economics. As a matter of fact, ecological economics was born as a result of criticisms of environmental and resource economics. There is a paradigm blowing today that environment is just a part of economics. This is what is applied in environmental economics, resource economics, or by the World Bank. On the contrary, there is another paradigm, according to which, economics is part of the environment instead. This paradigm is used in ecological economics and is used by a few traditional tribes in Indonesia, such as Rimba, Dayak Jalai, and Marind-Anim, with their local wisdoms. The latter paradigm, he said, is the more ideal paradigm.  The aim is, of course, to achieve sustainable development.

Jun 5, 2012

Happy International Year of Rhino!

Hari ini, 5 Juni 2012, merupakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang bertepatan dengan dicanangkannya Tahun Badak Internasional. Tahun Badak Internasional merupakan suatu peringatan yang digagaskan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) beserta negara-negara yang merupakan wilayah sebaran habitat badak di dunia. 

Badak merupakan hewan bercula yang keberadaannya semakin terancam. Di Indonesia, terdapat dua spesies badak, yakni badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Berdasarkan IUCN Red List, kedua spesies karismatik tersebut termasuk dalam kategori Critically Endangered (sangat terancam). Wajar saja, menurut WWF, jumlah perkiraan populasi badak jawa diketahui hanya sekitar 50 sementara badak sumatera hanya sekitar 200. 

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah artikel di Kompas dengan judul "Indonesia Menanti Kelahiran Badak Pertama". 

"Setelah lebih dari 124 tahun upaya penangkaran, Indonesia menantikan kelahiran anak badak Sumatera yang kini tinggal di Suaka Badak Sumatera Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Seekor badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) betina berusia 13 tahun bernama Ratu yang kini tengah hamil tua diperkirakan melahirkan anaknya antara bulan Juni sampai Juli mendatang."

Wah, saya turut senang! Pasalnya, "menjodohkan badak" sumatera bukanlah hal yang mudah. Berbagai upaya penangkaran perjodohan pun belum ada yang membuahkan hasil. Hal tersebut sontak mengingatkan saya pada kisah menarik dalam penangkaran badak sumatera di Way Kambas yang pernah diceritakan oleh dosen saya. 

Suaka Badak Sumatera Way Kambas berada di lahan seluas 100 hektar. Ada empat ekor badak yang ditempatkan di sana, yakni seekor jantan bernama Torgamba dan tiga ekor betina bernama Rosa, Ratu, dan Bina. Dari ketiga ekor badak betina tersebut, tidak satupun badak betina yang berhasil melahirkan. Pernah suatu ketika, Ratu berhasil hamil, namun ia keguguran. Duh, sulit sekali ya.

Kemudian, Suaka Badak Sumatera Way Kambas (Way Kambas Sumatran Rhino Sanctuary) pun bekerja sama dengan Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat. Singkat cerita, setelah riset selama bertahun-tahun, lahirlah Andalas pada bulan September tahun 2000 di kebun binatang tersebut. Dikatakan bahwa Andalas merupakan prestasi dalam upaya penangkaran badak, karena merupakan satu-satunya badak yang dapat lahir di penangkaran dalam kurun waktu 112 tahun terakhir. Setelah ditinggal mati induknya, Andalas pun dikirim ke Way Kambas pada tahun 2007. Ia menjadi salah satu tonggak harapan untuk menyelamatkan kelangsungan badak sumatera. 

Saat tiba di Indonesia, Andalas menjadi manja karena ia sudah terbiasa tinggal di Amerika. Ia harus terus-menerus ditemani oleh para staf untuk dapat beradaptasi di lingkungan Way Kambas. Di antara para betina, Ratu lah yang tertarik pada Andalas. Upaya "pencomblangan" antara Ratu dan Andalas pun terus dilakukan. Akan tetapi, proses tersebut tidak begitu saja membuahkan hasil. Pada tahun 2010, Ratu sempat hamil. Sayangnya, Ratu kembali keguguran. 

Nah, akhirnya, seperti yang diberitakan salam sebuah artikel di Kompas tersebut, Ratu kembali hamil setelah proses yang begitu panjang dan rumit. Mari kita sama-sama berdoa agar proses kelahiran badak pertama di penangkaran di Indonesia tersebut berjalan lancar. Berikut kutipan yang kembali saya kutip dari Kompas. 

"Pada masa kehamilan yang ketiga kali ini, pemerintah sangat menjaga Ratu. Segala jenis asupan suplemen dan hormon diberikan kepada Ratu untuk menghindari keguguran. Bahkan kandang Ratu di Way Kambas ditutup supaya si induk tidak stres."

Nah, jika nantinya anak dari Ratu dan Andalas bisa lahir dengan selamat, tentu akan menjadi salah satu kado indah dalam peringatan Tahun Badak Internasional.

Happy International Year of Rhino

Jun 4, 2012

Konsep Spesies

"Spesies adalah tingkatan takson di bawah genus yang memiliki bentuk serupa."

Definisi spesies tersebut merupakan definisi yang saya pegang sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah. Jadi, jika ada dua organisme yang sama-sama berukuran besar, memiliki belalai dan gading, bertelinga lebar, maka kedua hewan tersebut merupakan satu spesies, yakni gajah atau Elephas maximus

Tapi sebetulnya, apa itu spesies? Kapan organisme X dikatakan satu spesies dengan organisme Y? Berikut akan saya paparkan tiga konsep spesies yang paling umum, yakni biological species concept, morphological species concept, dan phylogenetic species concept.

Pertama, morphological species concept. Batasan spesies dalam konsep tersebut hanyalah perbedaan morfologi. Jadi, organisme X dan Y dikatakan satu  spesies jika memiliki bentuk fisik yang serupa. Morphological species concept banyak digunakan untuk organisme yang sudah mati, punah atau sudah menjadi fosil, atau juga organisme dengan kompatibilitas reproduksi yang belum diketahui. Memang, konsep tersebut merupakan konsep yang paling mudah diterapkan. Akan tetapi, nyatanya konsep tersebut memiliki banyak kekurangan, seperti timbulnya species complex. Dalam species complex, ada organisme-organisme dengan bentuk fisik yang sama, namun ternyata bukan berasal dari spesies yang sama, atau sebaliknya. 

Yang kedua, biological species concept (Mayr 1942). Berdasarkan konsep tersebut, spesies didefinisikan sebagai anggota populasi yang dapat bereproduksi secara alami dan menghasilkan keturunan yang fertil. Konsep spesies tersebut banyak digunakan oleh para ahli zoologi. Pernah mendengar mule? Mule merupakan hasil perkawinan antara dua spesies yang berbeda, yaitu kuda (Equus caballus) dan keledai (Equus asinus). Kuda yang memiliki 64 kromosom dikawinkan dengan keledai yang memiliki 63 kromosom, menghasilkan mule yang steril (tidak fertil) dengan jumlah kromosom sebanyak 62. Dalam hal ini, mule tidak dapat dikategorikan sebagai satu spesies, ia biasa disebut sebagai hibrid. Walaupun biological species concept mudah dimengerti, nyatanya definisi tersebut tidak dapat diterapkan pada organisme yang hanya umumnya bereproduksi secara aseksual, seperti bakteri, alga, dan fungi.

Seekor mule.

Konsep ketiga, phylogenetic species concept. Dalam konsep tersebut, spesies merupakan ujung dari pohon filogeni, yakni sekelompok organisme yang memiliki nenek moyang bersama dan dapat dibedakan dari kelompok lainnya. Organisme yang merupakan satu spesies merupakan organisme-organisme yang memiliki kekerabatan genetik paling dekat (genetically closely related). Konsep tersebut pun dapat dengan mudah diterapkan secara luas, namun sayangnya data filogeni setiap spesies masih belum lengkap.

Lalu timbul pertanyaan yang menggelitik, kapan kita menggunakan konsep pertama, kedua, atau ketiga? Dalam suatu penelitian, peneliti menggunakan konsep spesies berdasarkan pada fokus penelitian tersebut. Akan tetapi, untuk berbagai tujuan dan komunikasi bagi masyarakat umum, konsep yang kedua, biological species lah yang banyak digunakan.

Jun 3, 2012

Turtle Island Expedition

These are some pictures I took when I was in Pulau Serangan (Turtle Island), last February. 

On our way
From a conservationist's view...
Mr. Jatna, Mr. Fatih, and Ms. Cici
Pretty
Lagoon
Cows
Symbiosis
Giant Turtle
Pamangku pura
Can't you see a flock of white birds?
Mangrove
Sneakers and poop
Discussing
Kiosk
We love Karina
Karina rent board
Looked so fun

And this one was taken by our lecturer, Mr. Jatna Supriatna, at Kuta Beach.
Enjoying sunset with Mbak Icha (Pasca-Biologi UI) & Mbak Cici (Pasca-Ilmu Lingkungan UI)

Jun 2, 2012

Maria! Maria! Orange Bill The Goose

Pernah lihat video klip dari OK Go yang berjudul "End Love"? Di samping konsep video yang menarik, ada sosok yang begitu mencuri perhatian saya. Sosok itu tidak lain ialah seekor angsa yang terus-menerus membuntuti para personil dalam video tersebut. Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca beberapa artikel mengenai keberadaan hewan tersebut.

Ternyata, angsa berleher pendek yang muncul dalam video klip OK Go, End Love, tersebut bernama Maria. Sebetulnya, Maria merupakan angsa jantan. Penduduk setempat menamakannya "Maria" karena mulanya mereka mengira ia berjenis kelamin betina. Maria menjadi terkenal karena persahabatannya dengan seorang pensiunan berusia 65 tahun bernama Ehrler. Maria seringkali tampak menunggu Ehrler melewati Echo Park untuk memberinya makanan. Saat Ehrler menggunakan skuternya, Maria terbang di sampingnya. Semenjak itu, Maria pun mulai dikenal sebagai angsa sahabat Ehrler. 

Kemunculan Maria dalam video klip tersebut sebetulnya terjadi secara tidak sengaja. Saat pengambilan video, para angsa leher pendek penghuni Echo Park menyingkir untuk sementara, tapi tidak dengan Maria. Maria terus mengikuti para personel OK Go. Ia bahkan mematuk kulit gitaris Andy Ross saat sang gitaris berusaha mengusirnya. Tidak ada pilihan lain kecuali menjadikan Maria sebagai bintang. Andy berkata: "We were like, people are going to think we have a trained goose." Maria pun dinamakan Orange Bill The Goose oleh band dan para kru dalam pembuatan video klip tersebut. 

Bulan lalu, bersama angsa-angsa lainnya, Maria direlokasikan ke Kebun Binatang Los Angeles. Hal ini disebabkan karena Echo Park sedang berada dalam tahap restorasi. Danau yang terletak di sana juga dikeringkan. Nah, setelah direlokasi di Kebun Binatang itulah, akhirnya diketahui bahwa Maria ternyata seekor angsa jantan. Oh ya, Maria pun memiliki akun Facebook. Here it is Orange Bill, The Goose

Kisah persahabatan Ehrler dan Maria tersebut cukup membuat saya terharu. Duh, saya ini memang mudah terharu jika mendengar kisah persahabatan antara hewan dan manusia; tentang bagaimana dua spesies yang berbeda bisa membentuk jalinan yang begitu kuat, yang terkadang melebihi hubungan antara dua spesies yang sama.

Maria (or now Mario), I love you, Buddy! Out of all the geese I've known, you're one of a kind. I wish to meet you one day then I'd acquaint you with my cat Kimmy. Hehe... 

Pictures:

Halo!

Halo, teman-teman!
Akhirnya saya memutuskan untuk membuat blog baru. 
Berbeda dengan "Reminiscencia" yang dipenuhi gambar-gambar iseng dan tulisan-tulisan pendek saya, blog ini akan saya gunakan untuk berbagi cerita, pengalaman, pengetahuan, dan pandangan saya tentang berbagai hal.
Semoga bermanfaat! :)