Feb 19, 2014

Tentang Teori Evolusi

Tulisan ini dipicu oleh perasaan geram saya setelah membaca sebuah blog mengenai bantahan-bantahan terhadap Harun Yahya. Apakah saya geram karena tidak setuju dengan isi blog tersebut? Bukan. Saya geram terhadap komentar-komentar konyol terhadap isi blog tersebut. Tampaknya telah menjadi rahasia umum, bahwa banyak kreasionis penentang teori evolusi yang mengandalkan buku Harun Yahya yang berjudul "Keruntuhan Teori Evolusi" sebagai acuan mereka. Ah, Harun Yahya. Please, people. He is not a scientistHe's a fraud. Heran, masih saja banyak yang menggunakan bukunya sebagai acuan. Padahal, banyak sekali kebohongan dan kekonyolan yang dilakukannya untuk meruntuhkan teori evolusi, yang justru tak akan runtuh karenanya. 

Charles Darwin, ialah seorang naturalis yang oleh para kreasionis banyak dihujat karena teori evolusinya. Saya sendiri merupakan pengagum Darwin, dan saya pikir ia sangat jenius. Sebagai pengagumnya, saya tentu merupakan satu dari orang-orang yang menerima fakta bahwa makhluk hidup berevolusi. Sebagai sebuah teori ilmiah, teori evolusi berada dalam ranah sains (sebagai penekanan: ranah sains, bukan ranah iman). Dalam sains, adalah wajar jika suatu teori runtuh dan digantikan dengan teori yang lain. Akan tetapi, hingga saat ini, teori evolusi toh masih merupakan teori ilmiah yang dapat menjelaskan keanekaragaman makhluk hidup. Jika mengacu pada Karl Popper, teori yang baik ialah jika teori itu dapat membuat prediksi yang pada prinsipnya dapat disangkal atau dibuktikan keliru dengan penelitian. Tiap kali suatu penemuan baru memberi hasil yang cocok dengan prediksi, maka teori itu akan terus bertahan, dan keyakinan kita terhadapnya meningkat. Sebaliknya, jika ada penemuan baru yang tak cocok, teori tersebut harus ditinggalkan. Kenyataannya, sangkalan-sangkalan terhadap evolusi belum bisa mematahkan teori tersebut. Bahkan, saat ini teori evolusi semakin berkembang, seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu genetika. Sementara itu, di dalam ilmu biologi sendiri, teori evolusi sudah menjadi bagian amat penting. Mengutip Prof. Steve Jones, "The theory of evolution by natural selection is a bit like grammar of biology. You can't learn a language without at least understanding something about its grammar." Jadi, sangat aneh jika ada yang mengaku mempelajari biologi, tapi percaya bahwa keanekaragaman makhluk hidup yang ada saat ini terjadi bukan akibat evolusi.

Kembali pada kegeraman saya akan komentar-komentar para kreasionis yang konyol. Sempat suatu kali saya iseng melakukan pencarian di Twitter, dengan kata kunci "teori evolusi" dan "evolusi Darwin". Menakjubkan. Kebanyakan dari cuitan mereka berisi tentang penentangan serta caci maki terhadap teori evolusi, tanpa tahu seperti apa teori evolusi yang sebenarnya. Contoh kalimat tipikal yang sering mereka lontarkan ialah, "Ah. Teori evolusi sudah runtuh. Kalau teori evolusi itu ada, mengapa masih ada kera seperti sekarang yang tidak berbudaya?", atau "Teori evolusi Darwin mengatakan kalau manusia berasal dari monyet. Kalian mau disamakan dengan monyet?". Biasanya, mereka merupakan korban-korban doktrin Harun Yahya. Mereka tak paham, bahwa evolusi tidaklah berjalan linear seperti yang mereka bayangkan. Evolusi berjalan bercabang-cabang, layaknya pohon; the tree of life. Tak pernah sedikit pun Charles Darwin menyebutkan bahwa monyet merupakan nenek moyang manusia. Yang ada ialah, bahwa manusia dan bangsa kera saat ini memiliki moyang bersama (common ancestor). Selain itu, tak sedikit pula dari mereka yang menunjukkan keangkuhannya sebagai manusia. Mereka tempatkan makhluk hidup lain, terutama kera, dalam posisi yang hina. Mereka tak rela bahwa di dalam sains, khususnya di dalam ilmu biologi, kita, manusia, Homo sapiens sapiens, berada dalam kelompok Primata, kelompok yang sama dengan para kera. Yes, we are the fifth ape.

Sungguh, keangkuhan tersebut membuat saya muak. Hal ini juga yang membuat saya yakin, bahwa pertanyaan "Apakah Anda menerima teori evolusi?" menjadi pertanyaan yang amat penting dan kiranya dapat memprediksi bagaimana pandangan seseorang terhadap alam. Menurut saya, jika seseorang benar-benar memahami teori evolusi, maka implikasinya ialah bahwa ia akan lebih menghargai keberadaan setiap makhluk hidup. Ia akan memandang bahwa posisi kita, manusia, sama dengan makhluk hidup lain di dunia ini. Memang, dalam beberapa hal, kita, manusia lebih maju, karena otak kita memang mengalami perkembangan yang lebih pesat dibanding makhluk hidup lainnya. Ya, otak manusia merupakan produk evolusi terkompleks. Tapi itu mestinya tak membuat kita sombong, toh. Kita bersama dengan makhluk hidup yang ada saat ini, pada dasarnya sama. We are all survivors.

Sudah semestinya kita berterima kasih kepada Charles Darwin, dan juga Alfred Russel Wallace, karena tanpa pemikiran mereka, mungkin kita tak akan menyadari bahwa makhluk hidup yang beraneka ragam di muka bumi ini, baik mikroskopik maupun makroskopik, ialah terkait satu sama lain. Tanpa bermaksud meromantisasi, tapi hal ini terasa sangat indah, bukan? Pengetahuan mengenai apa dan bagaimana teori evolusi itu sebenarnya sudah selayaknya lebih disosialisasikan, agar tak lagi muncul miskonsepsi dan kesalahpahaman tentang teori evolusi itu sendiri. 

No comments:

Post a Comment