Dini hari, pukul tiga pagi, saya terbangun karena merasakan sesuatu yang amat tak enak pada perut saya. Memang tak perih, tapi amat mual. Saya kira itu hanya masuk angin biasa (saya masih menggunakan istilah masuk angin, ya walaupun sebetulnya istilah tersebut tak tertera dalam dunia medis), yang memang sudah biasa saya alami. Saya pun menelan paracetamol, karena badan saya pun terasa hangat akibat demam. Satu jam kemudian, tak ada perubahan. Ada yang tak wajar. Saya pun menenggak satu bungkus tolak angin. Masih tak ada perubahan. Selain mual, saya pun merasakan sesak dan jantung berdebar-debar. Benar-benar ada yang tak beres. Ini bukan masuk angin biasa, pikir saya. Pukul setengah lima, ibu saya bangun. Saya pun mengutarakan apa yang saya alami. Beliau lantas membuatkan saya segelas teh manis hangat. Tak lama setelah saya meminum teh, saya langsung bergegas ke kamar kecil karena perut saya mulas. Setelah saya keluar dari kamar kecil, sekujur tubuh saya mengalami suatu hal yang sudah berabad-abad tidak saya rasakan (sedikit hiperbolis). Ya, saya muntah-muntah di lantai ruang tengah. Saya pun memanggil ibu saya. Sontak beliau berkata, "Ayo, nggak apa-apa, muntahin aja semuanya." Setelah agak reda, saya lari ke kamar kecil, dan melanjutkan muntah di sana. Ya, tumpah ruah. Saya muntah amat banyak. Sangat banyaknya hingga hingga saya panik dan lutut saya tremor. Maklum, terakhir kali saya mengalami muntah memang sudah sangat lama. Sempat terlintas di kepala saya ini, kalau saya muntaber, mengingat saya pun mengalami diare.
Saya duduk beristirahat. Seisi perut saya terasa sangat kosong. Memang sih, setelah muntah saya merasa lebih baik. Sambil istirahat, pandangan saya tertuju pada ibu yang sedang membersihkan sisa-sisa muntah saya di lantai. Tiba-tiba mata saya basah. Ibu saya memang ibu terbaik di dunia. Ingin rasanya membantu beliau membersihkannya, tapi apa daya, saya begitu lemas. Beliau pun tak mengizinkan saya membantunya. "I love you, Mom..." batin saya. Setelah itu, beliau membalur punggung saya. Butuh sebutir paracetamol lagi hingga saya akhirnya bisa tertidur.
Terbangun. Saya masih merasa lemas. Wajar saja, muntah dan diare membuat saya dehidrasi. Siang harinya, walau masih merasa mual, saya memberanikan diri untuk makan, setidaknya agar ada asupan nutrisi dalam tubuh saya. Makanan yang saya coba makan ialah bubur bayi. Satu suap, dua suap, tiga suap... saya merasakannya lagi. Ah, apa lagi ini. Saya pun berhenti dan meminum air hangat. Tak lama, saya kembali memuntahkan semuanya. Belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Melalui sebuah grup di media sosial, saya menceritakan hal ini pada teman-teman dekat saya. Dua di antara mereka saya menduga kalau saya terkena maag kronis, hingga lambung membengkak dan terus-menerus mengeluarkan asam lambung. Mereka pernah mengalamai hal yang sama, dan menyarankan saya untuk pergi ke dokter. Mereka pun menyarankan saya untuk menghindari makanan pedas, asam, berlemak, dan bersantan, serta minuman seperti kopi, susu, dan teh. Ah. Setelah mendapat masukan, saya merasa lebih lega.
Dugaan-dugaan yang menghiasi kepala saya harus segera dibuktikan. Betul, saya perlu pembuktian. Ditemani ibu saya, saya pun pergi ke tempat praktik dokter yang letaknya tak jauh dari rumah. "Maag kamu kambuh. Asam lambung naik," ucap dokter. Ya, ya, ya. Dugaan saya terbukti. Dokter memberi saya tiga macam obat. Satu untuk mencegah mual, satu untuk mengobati lambung dan usus dua belas jari, dan satu untuk meredakan demam.
Tenggakan obat kelima, keesokan harinya. Badan saya sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Di saat begitu, saya mulai bisa berpikir jernih bahwa di balik sakit yang saya alami, saya amat bersyukur. Betapa saya selama ini terlalu jumawa, bahwa lambung saya amat kuat ditempa makanan jenis apapun. Betapa saya selama ini mengkhianati tubuh saya, dengan sering mengonsumsi santapan yang tak ramah perut. Betapa saya selama ini tak menghargai tubuh saya, dengan makan secara tak teratur. Dan sebagainya, dan sebagainya. Mulai saat itu, saya berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya tak akan berkhianat lagi. Ya. Selalu ada hikmah di balik sebuah cerita. :-)
Terbangun. Saya masih merasa lemas. Wajar saja, muntah dan diare membuat saya dehidrasi. Siang harinya, walau masih merasa mual, saya memberanikan diri untuk makan, setidaknya agar ada asupan nutrisi dalam tubuh saya. Makanan yang saya coba makan ialah bubur bayi. Satu suap, dua suap, tiga suap... saya merasakannya lagi. Ah, apa lagi ini. Saya pun berhenti dan meminum air hangat. Tak lama, saya kembali memuntahkan semuanya. Belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Melalui sebuah grup di media sosial, saya menceritakan hal ini pada teman-teman dekat saya. Dua di antara mereka saya menduga kalau saya terkena maag kronis, hingga lambung membengkak dan terus-menerus mengeluarkan asam lambung. Mereka pernah mengalamai hal yang sama, dan menyarankan saya untuk pergi ke dokter. Mereka pun menyarankan saya untuk menghindari makanan pedas, asam, berlemak, dan bersantan, serta minuman seperti kopi, susu, dan teh. Ah. Setelah mendapat masukan, saya merasa lebih lega.
Dugaan-dugaan yang menghiasi kepala saya harus segera dibuktikan. Betul, saya perlu pembuktian. Ditemani ibu saya, saya pun pergi ke tempat praktik dokter yang letaknya tak jauh dari rumah. "Maag kamu kambuh. Asam lambung naik," ucap dokter. Ya, ya, ya. Dugaan saya terbukti. Dokter memberi saya tiga macam obat. Satu untuk mencegah mual, satu untuk mengobati lambung dan usus dua belas jari, dan satu untuk meredakan demam.
Tenggakan obat kelima, keesokan harinya. Badan saya sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Di saat begitu, saya mulai bisa berpikir jernih bahwa di balik sakit yang saya alami, saya amat bersyukur. Betapa saya selama ini terlalu jumawa, bahwa lambung saya amat kuat ditempa makanan jenis apapun. Betapa saya selama ini mengkhianati tubuh saya, dengan sering mengonsumsi santapan yang tak ramah perut. Betapa saya selama ini tak menghargai tubuh saya, dengan makan secara tak teratur. Dan sebagainya, dan sebagainya. Mulai saat itu, saya berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya tak akan berkhianat lagi. Ya. Selalu ada hikmah di balik sebuah cerita. :-)