Kegigihan Jerinx Superman Is Dead (SID) dalam menolak proyek reklamasi Teluk Benoa mengingatkan saya dengan sosok bernama I Wayan Patut. Sama-sama dari Bali, sama-sama bertubuh kekar dan berkulit gelap, dan sama-sama gigih dalam memperjuangkan alam Bali. Wayan Patut ibarat Jerinx dari Pulau Serangan. Saat akan melakukan sebuah penelitian di pulau itu tiga tahun yang lalu, seseorang berkata begini: "Kalau kamu mau penelitian di sini, kamu harus banyak bergaul dengan Wayan Patut. Dia orang paling nyeleneh di sini."
Ya, memang betul. Jika berada di Serangan, tanyakan pada penduduknya. Siapa yang tak kenal Wayan Patut. Seorang pejuang alam yang vokal dan gigih menolak reklamasi Serangan, meski akhirnya reklamasi dijalankan pada tahun 1990-an. Seorang ketua Kelompok Nelayan Karya Segara yang menginisiasi program ekowisata dan edukasi berbasis masyarakat. Seorang peraih Kalpataru sebagai penyelamat lingkungan atas usahanya merehabilitasi berhektar-hektar terumbu karang.
Reklamasi Pulau Serangan telah mengubah wajah keseluruhan pulau tersebut. Dampak ekologis yang ditimbulkan pengurugan tersebut antara lain perubahan arus laut serta kerusakan padang lamun, terumbu karang, dan mangrove. Tentu hal tersebut berpengaruh terhadap jumlah tangkapan para nelayan. Dampak ekologis pun berimbas pada surutnya mata pencaharian nelayan saat itu. Para nelayan pun berbondong-bondong menambang karang hingga banyak terumbu karang di sekitar Serangan rusak. Buruknya lagi, kerusakan terumbu karang tersebut semakin menyurutkan jumlah ikan yang hidup di perairan Serangan.
Di tengah kondisi yang carut-marut itu, Wayan Patut merasa bahwa ia harus bergerak dan melakukan sesuatu bagi tanah kelahirannya. Ia tak tahan dengan keadaan yang ada. Yang ia pikirkan saat itu ialah bagaimana caranya agar masyarakat berhenti menambang karang, namun dapat tetap memiliki mata pencaharian untuk menyambung hidup. Ya, sebuah konsep "mencari uang" dengan kaidah keberlanjutan.
Wayan Patut, yang sadar bahwa pulaunya tak lagi sama, mengerti bahwa pembangunan di pulaunya akan tergerus arus pariwisata seperti yang lumrah terjadi pada wilayah lain di Bali. Dengan caranya, ia mengajak rekan-rekan sesama nelayan untuk mendirikan Karya Segara, sebuah kelompok nelayan yang menjadikan penanaman terumbu karang sebagai mata pencaharian. Kelompoknya juga giat memberi edukasi bagi anak-anak Serangan tentang pentingnya terumbu karang bagi hidup mereka. Penghasilan didapat, namun alam tetap dijaga. Inilah salah satu bentuk konservasi yang saya tahu; di samping melindungi alam, kita juga memanfaatkannya secara lestari. Cerdas.
Bagi saya, pria itu mengajarkan saya bahwa kita bisa saja menjadi idealis dengan segala macam idealisme yang kita anut, akan tetapi kita juga harus bisa tetap realistis untuk dapat beradaptasi dengan perubahan; agar bisa bertahan hidup. "It is not the strongest nor the most intelligent who will survive. It is the one who is most adaptable to change."